Kereta cepat Jakarta-Surabaya kian dekat
Kereta ekspres berkecepatan 160 kilometer per jam rute
Jakarta-Surabaya diyakini sudah cukup mengurangi beban transportasi
darat dan udara. Kesimpulan itu berdasarkan kajian Badan Pengkajian dan
Penerapan Teknologi (BPPT).
Berdasarkan kajian BPPT awal
revitalisasi kereta ekspres Jakarta-Surabaya yang dilakukan BPPT dan
Kementerian Perhubungan, PT KAI dan Jepang, pengembangan kereta ekspres
ini cukup mendesak dan seharusnya tahun ini sudah dikerjakan, meski
peminat proyek ini akan susah didapat.
"Kenapa kok tidak dibuat
secepat Shinkansen (kereta supercepat Jepang)? Karena biayanya sangat
besar, dari hasil kajian awal pakai kereta ekspres dengan kecepatan 160
km per jam saja sudah cukup," kata Kepala BPPT Unggul Priyanto melalui Antaranews.
Unggu
juga mengatakan berdasarkan hasil kajian itu, rel kereta yang sekarang
digunakan masih akan bisa digunakan jika memang kereta ekspres
berkecepatan 160 kilometer per jam yang dikembangkan. Dengan demikian
rel kereta yang ada bisa digunakan lebih optimal, tidak perlu membuat
jalur rel kereta yang baru.
Pada 2016 BPPT juga telah melakukan
pendampingan teknis pembangunan Light Rapid Transit (LRT) di Palembang,
pengkajian sistem LRT Jabodetabek bersama Kementerian Perhubungan, dan
kajian kereta cepat Jakarta-Bandung.
Menteri Perhubungan Budi
Karya Sumadi sendiri mengatakan berdasarkan hasil pertemuan antara
Presiden Joko Widodo dan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe, Indonesia
memberikan kesempatan kepada Jepang untuk menyusun proposal awal rencana
kerja sama proyek revitalisasi jalu kereta utara Jawa itu.
Budi
menjelaskan di dalam proposal juga akan dikaji prastudi kelaikan dan
kesepakatan nilai investasi proyek itu. "Termasuk (nilai investasi
proyek), kalau prastudi kelaikan itu kan ada kualitatif dan
kuantitatif".
Ia menambahkan nantinya, hasil proposal awal dari
Pemerintah Jepang akan dicocokkan dengan hasil studi yang dibuat oleh
Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional (Bappenas). Pemerintah akan
memberi kesempatan kepada pemerintah Jepang untuk membuat proposal awal
guna menerapkan standar kehati-hatian dalam proyek yang nilainya
mencapai Rp80 triliun tersebut.
Indonesia dan Jepang sepakat
meningkatkan kerja sama di bidang keamanan maritim dan memulai
pembicaraan ihwal proyek kereta Jakarta-Surabaya, pada Minggu
(15/1/2017) lalu.
Jepang telah lama menjadi salah satu penanam
modal terbesar di Indonesia. Namun, pada 2015, negeri itu seakan
terpukul dengan keputusan Jokowi memilih Tiongkok untuk mengerjakan
proyek kereta cepat Jakarta-Bandung.
Pada Januari hingga September 2016 investasi
Jepang di tanah air telah mencapai USD4,498 miliar. Angka itu naik dua
kali lipat ketimbang investasi negeri yang sama pada 2015. Sementara
dalam urusan dagang, nilai yang dicatatkan kedua negara nyaris menyentuh
USD24 miliar pada Januari-Oktober 2016.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar